Selasa, 09 April 2013

"Memahami Konsekuensi Sekularisme di Amerika Serikat"




Tiga puluh tahun lalu, dalam sebuah kesempatan berpidato di depan para tokoh agama, Ronald Reagan mengatakan bahwa Amerika bukanlah negara yang memandatkan agama dalam  bingkai identitas kenegaraan.  Amerika juga tidak akan pernah memilih salah satu agama sebagai agama nasional. Dengan tegas Reagan menyatakan bahwa sampai kapanpun negara dan gereja akan tetap terpisah. Pernyataan tersebut merupakan sebuah penegasan bahwa Amerika sampai kapanpun akan tetap menjadi negara sekuler.
Ketegasan prinsip sekularisme Amerika yang hingga kini masih tetap dipegang teguh sebagai landasan penyelenggaraan negara merupakan ekses dari sejarah panjang negara tersebut. Sejarah telah mencatatkan bahwa berabad-abad lalu ratusan orang  berbondong-bondong keluar dari Eropa melakukan pelayaran berminggu-minggu hanya untuk pergi ke suatu tempat yang mereka sebut New World, yakni benua Amerika. Migrasi besar-besaran yang terjadi dari Eropa menuju Amerika diawali oleh tiga golongan agama yakni kaum Puritan, Katolik dan Quaker. Ketiganya merupakan kelompok agama yang telah mengalami pengalaman buruk dengan  kehidupan agama di Eropa. Dengan membawa harapan besar, mereka bermimpi untuk membangun sebuah tatanan masyarakat baru yang lebih bebas dan sesuai dengan nilai agama mereka.
Amerika kemudian mulai dipandang sebagai tepat yang menjanjikan kebebasan utamanya kebebasan agama. Bagi siapapun yang pernah disakiti oleh kehidupan agama di negara asalnya, Amerika adalah tempat yang akan memberikan obat penyembuh luka bernama kebebasan beragama. Akan tetapi seiring dengan semakin masifnya migrasi ke Amerika justru menimbulkan sebuah konsekuensi logis meningkatnya derajat pluralitas baik etnis maupun agama. Mereka yang tadinya datang ke Amerika untuk tujuan kebebasan beragama justru melakukan persekusi terhadap kelompok lain hanya karena menganggap agama mereka paling benar sedang yang lain sesat. Sebagai hasilnya, berbagai peristiwa berdarah muncul seiring dengan semakin pluralnya kehidupan agama. Sebut saja pengarakan kelompok agama Quaker di Massachussets oleh kaum Puritan, pelarangan ibadah bagi kaum Yahudi di New Nork, pembakaran gereja-gereja Katolik,  juga pemaksaan umat Kristiani terhadap orang-orang Indian Pueblo untuk melepaskan agama pribumi yang telah mereka anut.
Setelah mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan dari pemerintah kolonial Inggris, pada tahun 1787 para tokoh kemerdekaan menyusun Konstitusi Amerika. Sayangnya tidak ada satu klausul atau pasal pun yang menjamin kebebasan agama. Hingga pada tahun 1791, barulah bangsa Amerika memiliki fondasi bernama Bill of Right yang melarang negara untuk mengutak-atik lima kebebasan dasar, termasuk didalamnya adalah kebebasan agama bagi setiap orang terkecuali Indian. Bill of Right yang telah disusun sebagai pengakuan atas hak-hak dasar tiap individu ternyata belum cukup ampuh untuk menjadikan Amerika sebagai negara yang mampu menjamin kebebasan beragama. Pada era tahun 1800an sebuah kerusuhan berdarah terjadi oleh kelompok yang saling berkontraposisi atas upaya memasukkan Injil ke dalam sekolah-sekolah publik. Mereka yang ingin mengembalikan Injil ke dalam kurikulum sekolah publik setifdaknya harus menentukan satu diantara ratusan jenis Injil yang ada.

Konstitusi Amerika kembali diuji dengan adanya kekuatan politik baru bernama Ku Klux Klan. Mereka menyebut  diri mereka sebagai Kekuatan Politik Protestan. Pada tahun 1920, dengan jumlah keanggotaan hingga mencapai empat juta orang, kelompok ini mampu menguasai kursi legislatif di beberapa negara bagian mulai dari Maine hingga Oregon. Mengenakan jubah putih lengkap dengan penutup wajah yang khas, kelompok ini melakukan ­long march di depan Capitol Hill sambil membawa papan bertuliskan “America First! One God, One Country, One Flag” dan menyerukan undang-undang anti Katolik, Yahudi, imigran dan anti-Amerika lainnya. Peristiwa demontrasi besar-besaran oleh jutaan orang kulit hitam yang dipimpin oleh Martin Luther King ternyata mampu merangkul komunitas agama untuk bergabung melawan diskriminasi. Akan tetapi upaya ini mendapat penolakan dari orang-orang yang tidak suka dengan aksi itu. Sebagai konsekuensinya gereja dan sinagog di negara bagian Atlanta dibom serta dibakar. Diantara sekian banyak peristiwa yang terjadi, bangsa Amerika mendapatkan ujian terberat mereka saat teroris meluluh lantahkan dua menara WTC di New York. Dalam sekejap, masyarakat Muslim di Amerika hidup dalam sinisme dan ketakutan bahkan muncul tema baru berjudul Islamopobia. Masjid dicoret-coret dengan makian dan kutukan yang tidak sepantasnya. Lebih dari itu, masyarakat non-Muslim mulai ramai melakukan aksi demo menolak syariat Islam.
Sampai saat ini Amerika masih berupaya untuk mencari sebuah tatanan masyarakat yang menyatu. Akan tetapi hal yang tidak dapat dipungkiri dari kondisi sosial masyarakat Amerika ialah keberagaman mereka. Diakui atau tidak, Amerika masih diyakini sebagai tempat yang menjanjikan kebebasan, khususnya kebebasan beragama. Oleh karena itu tidak heran jika segala macam agama hidup dan berkembang dengan bebas di Amerika, mulai dari agama samawi, agama bumi hingga sekte sesat seperti Satanist. Melihat kenyataan ini, menjadi sangat logis jika kemudian bangsa Amerika memilih untuk menjadi negara yang sekuler. Bagi mereka pemisahan antara gereja dengan negara merupakan cara terbaik untuk menjamin kebebasan agama itu tetap ada sebagaimana dikatakan oleh Ronal Reagan  bahwa tujuan negara melakukan sekularisasi ialah untuk menjamin kebebasan setiap individu untuk menganut ataupun tidak menganut agama manapun dan negara tidak boleh sama sekali ikut campur.
Pendekatan motif sekularisme di Amerika bukan hanya bisa dilihat dari sudut pandang pluralitas masyarakatnya. Lebih dari itu, upaya sekularisme bisa jadi merupakan ‘alat’ untuk menyelamatkan keutuhan negara. Tidak dapat dipungkiri bahwa setelah mencapai kemerdekaan, Amerika tidak langsung menjadi sebuah negara serikat. Perlu diingat bahwa Amerika pada awalnya terdiri dari 13 koloni yang masing-masing berdiri sendiri sebagai sebuah negara dengan prinsip self-governed. Disamping itu, tantangan dari golongan Republikanis terhadap golongan Federalis tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka yang pro Amerika berbentuk Republik tentu mengandung konsekuensi berupa lemahnya power pemerintah dna kuatnya suara people. Bagi golongan Federalis, hal itu dianggap akan mengancam keutuhan negara oleh karena tingkat kemajemukan yang bisa dibilang kelewatan. Oleh karena itu, membentuk Amerika sebagai negara Federal yang tidak menyentuh agama sebagai salah satu parameter terpenting kemajemukan merupakan solusi paling rasional untuk menjaga keutuhan negara itu.
Pengarakan Kaum Quakers di Massachusett
Bangsa Amerika juga tidak bisa menolak kenyataan bahwa sekularisme memunculkan adanya konsekuensi berupa konflik horisontal yang bersumber dari perbedaan teologi masing-masing agama yang seringkali bertolak belakang. Sejarah buruk kehidupan agama masa lalu di Amerika yang bahkan masih terjadi hingga saat ini telah menjadi bukti bahwa sekularisme yang terjadi justru memunculkan masalah berupa konflik agama karena negara tidak berhak dan sama sekali tidak boleh mengatur urusan agama. Disisi lain, paham liberalisme yang mengagungkan kebebasan juga tidak bisa dipungkiri telah membuka ruang ‘debat’ bagi masing-masing agama untuk saling beradu argumen. Dalam bahasa sederhana, orang Amerika tidak akan dituntut apalagi ditahan hanya karena menolak bahkan mengritik dan mengejek agama lain. 

Senin, 08 April 2013

“Mereka Juga Muslim!”



Kita seringkali mendengar berbagai kisah tantang syahidnya para mujahid di tanah Palestina. Tidak bisa dipungkiri bahwa konflik yang terjadi antara Israel dengan Palestina, atau jika boleh disebut sebagai konflik antara pemerintah Israel vis a vis Hamas telah mengundang perhatian dari umat Islam di seluruh dunia. Terlepas dari berbagai anggapan tentang Hamas dan Israel, peperangan yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun di tanah Jerusaalem itu telah dijadikan sebagai ‘ladang jihad’ bagi umat muslim. Berbondong-bondong umat muslim di berbagai belahan bumi mengirimkan para mujahid unggulan mereka untuk memerangi tentara Israel.
            Diantara beribu kisah tentang mujahid Palestina, ada sebuah cerita yang sangat menarik dituturkan oleh Syeikh Yusuf Qardhawi tentang seorang pemuda Mesir bernama Abdul Wahab al-Bituni. Abdul ialah seorang pemuda yang belum lulus SMU. Semangat jihadnya untuk bisa berdiri di barisan umat Muslim di Palestina sudah tidak lagi bisa dibendung. Alasan yang paling rasional sekaligus tidak rasional bagi Abdul untuk bisa berjihad di Palestina bukanlah untuk mendapatkan penghargaan dari pemerintah Mesir. Ia berjihad hanya untuk satu tujuan, yakni syahid.  Akan tetapi tidak mudah bagi seorang pemuda Mesir seperti Abdul untuk bisa berangkat ke tanah Palestina dan mengangkat senjata melawan tank-tank Israel, terlebih menghadapi kenyataan bahwa ia adalah putra semata wayang dari seorang janda. Ibu manakah yang rela melepaskan putranya untuk pergi berperang melawan tank Israel? Bagi seorang ibu, tidak ada alasan yang paling rasional untuk memberikan ijin kepada seorang anak yang meminta untuk bisa mati syahid dalam peperangan, kecuali karena keimanannya kepada Allah. Sayangnya, itu adalah cita-cita Abdul. Ia mengerti betul bahwa ibunya tidak akan mengijinkannya. Hingga kemudian Syeikh Qardhawi sendirilah yang meyakinkan sang ibu. Ulama itu mengatakan bahwa bukan jihad yang akan menentukan matinya seseorang, namun ketentuan Allah.
            Setelah mengantongi ijin dari ibunya, bukan berarti ia bisa berangkat ke medan perang. Aturan yang dibuat Ikhwanul Muslimin mengharuskan pemuda seusia Abdul untuk mendapat ijin langsung dari Hasan Al Banna sendiri. Dengan perasaan mantab dan dibayangi oleh kegembiraan untuk bisa syahid di tanah Palestina, Abdul dan Syeikh Qardhawi menuju Kairo dan menemui Hasan Al-Banna untuk meminta ijin. Stelah ijin berhasil ia kantongi, Ia bersama-sama dengan ribuan mujahid lain dilepas dari Kairo. Semangat yang menggebu-gebu yang ada dalam dada Abdul telah membawanya dalam medan pertempuran. Sekali lagi hanya satu yang ia inginkan, syahid di tanah Palestina, dan ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Abdul syahid saat bertempur melawan tentara Israel.
            Kisah Abdul ini hanya satu dari ribuan kisah heroik para mujahid yang berangkat ke Palestina untuk apa yang mereka imani. Sebagaimana Abdul, alasan bagi para mujahid untuk berjihad ialah untuk syahid. Bukan main-main, kata syahid telah diagungkan karena mengandung sebuah garansi dari Allah bahwa mereka yang mati secara syahid akan mendapatkan surga.
            Di belahan bumi lain, bukan di Timur Tengah, bukan juga di negara Islam atau bermayoritas penduduk Islam, namun di sebuah negara yang sangat terkenal dengan sekulerismenya, terdengar pula sebuah cerita yang tidak kalah menarik. Minggu pagi tanggal 6 Maret 2011, tepat sepuluh tahun setelah peristiwa terorisme 11 September, di Time Square, sebuah daerah di kota New York hari itu mendapatkan pengunjung lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ingin melihat gemerlap Time Square, namun ratusan orang berkumpul untuk menyuarakan sesuatu. Dalam kerumunan tersebut, terdapat sebuah panggung yang disetting sederhana dengan backdrop bendera Amerika Serikat yang cukup besar. Dari kejauhan terdengar jelas suara tiga perempuan kecil yang sedang berpidato dengan penuh semangat, seolah apa yang mereka katakan ialah penting untuk didengar oleh masyarakat New York.  Dengan penuh kepercayaan diri, ketiganya menyampaikan pidato pembelaan terhadap sebuah komunitas di New York yang sedang mendapat diskriminasi dari seorang anggota Kongres. Mereka mengatakan, meskipun hanya anak-anak, namun mereka sangat paham bahwa tidaklah benar untuk memperlakukan siapapun dengan tidak adil hanya karena kepercayaan agama mereka. Siapakah sebenarnya ketiga anak kecil ini? Siapa yang sedang mereka perjuangkan?
           
Anggota Kongres Peter King yang menuduh Islam
sebagai sumber radikalisme
Tiga perempuan kecil tersebut merupakan bagian dari aksi protes 150 organisasi kemasyarakatan terhadap sikap seorang anggota kongres Amerika Serikat bernama Peter King yang menuduh Islam sebagai sumber radikalisme dan kekerasan. Diantara 150 organisasi tersebut, seratus dari organisasi non-Muslim. Hal ini mereka lakukan karena Peter King telah mengeluarkan pernyataan yang sangat tidak mengenakkan dan menyinggung umat Islam. Mereka khawatir bahwa apa yang dilakukan oleh Peter King akan memberikan label Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan terorisme. Uniknya, aksi protes yang sebagian besar dihadiri oleh non-Muslim mengambil tema “Today, I am a Moslem Too!”. Bukan hanya ketiga anak kecil tersebut yang menyampaikan pembelaanya terhadap umat Islam di Amerika, namun juga para tokoh-tokoh agama Yahudi, Katolik, dan Protestan. Salah satunya ialah Imam Syamsi Ali, seroang Imam asli Indonesia yang bermukim di New York dan menjadi imam dari Jamaican Muslim Community. Daiantara kerumunan massa, seorang wanita Afrika-Amerika, sambil memegang poster berisi dukungan terhadap Islam mengatakan kepada peliput acara sambil menghadap ke kamera “Hari ini saya adalah muslim, bagaimana dengan anda?”

Simpatisan aksi damai "Today I'm a Mosem Too"
 di depan Time Square
           Sekitar empat blok dari tempat mereka melakukan aksi protes, terdapat pula sebuah kerumunan massa dari pendukung Peter King. Mereka menyatakan dukungannya terhadap Peter King dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Peter King adalah hal yang benar. Mendapati bahwa komunitas Muslim sedang melakukan aksi serupa,  para pendukung Peter King menyatakan sikap ketidaksukaan mereka terhadap aksi yang dilakukan oleh komunitas Muslim. Salah satu orator dari aksi tersebut mengatakan “Hari ini saya merasa dilecehkan dan diserang oleh mereka yang melakukan aksi “Today I’m a moslem Too.” Saya ingin mengatakan kepada Imam Syamsi Ali bahwa hari ini saya bukan Muslim!”.
           
Ditemani rintik gerimis kota New York, para peserta aksi damai
berkumpul untuk menyuarakan kritikan mereka terhadap Petter King
Cerita tentang pembelaan komunitas non-muslim terhadap umat Islam di New York sebagaimana terjadi dalam aksi “Today, I am a Moslem Too!” telah menyedot perhatian publik melalui media massa, memberikan gagasan ide tentang objektivitas bagi mereka yang hanya sekadar lewat atau mereka yang memang tertarik dengan aksi itu, bergabung dengan para pendukung Muslim dan pulang ke rumah dengan pandangan baru seraya mengatakan kepada putranya, “nak, Islam bukan agama teroris!” Publik mungkin bisa dengan jelas mendapatkan informasi bahwa rakyat Amerika yang bukan muslim pun mau untuk membela hak-hak Muslim. Namun masih banyak pula cerita yang tidak seberuntung itu untuk bisa dipahami.
            Pada tahun yang sama, seorang polisi Muslim sekaligus Imam bernama Khalid Latif sedang menjalankan tugasnya. Bukan sembarang tugas, namun ia bertugas di Ground Zero mengawal peringatan peristiwa 9/11 yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Sebagaimana pada umumnya polisi, Imam Khalid mengenakan seragam polisi, hanya saja ia memiliki jenggot dan memakai kopiah, yang mungkin jarang dilakukan oleh polisi manapun saat bertugas, terasuk di Indonesia. Di negara yang sedang memiliki tensi dengan terorisme yang sekali lagi dicitrakan dengan Islam, adalah hal yang patut dihargai ketika seorang polisi tanpa ragu menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Di tengah-tengah tugasnya, tiba-tiba ia di datangi oleh tiga orang laki-laki berjas berkata kepada Imam, “Kami perlu memeriksa lencanamu, karena intelejen mengamati anda dari atas gedung dan kami ingin meyakinkan siapa anda sebenarnya, hanya untuk berjaga-jaga.” Merasa tidak bersalah, lalu Imam berkata, “berjaga-jaga untuk apa?” Kemudian salah satu dari ketiganya berkata kepada Imam, “kami minta maaf karena kami harus melakukan ini kepada anda.” Karena semakin heran dengan perlakuan ketiganya, Imam kembali bertanya, “lalu mengapa kalian melakukan ini?” Keributan kecil ini ternyata mendapat perhatian banyak orang yang sedang khusyu mengenang anggota keluarganya. Lalu tiba-tiba seorang keluarga yang berdiri tidak jauh dari Imam mendekati keempatnya. Seorang ibu dari keluarga tersebut berkata kepada ketiga laki-laki tersebut. “Apa yang anda sedang lakukan sekarang ialah hal yang lebih tidak menghormati anggota keluarga tercinta kami yang telah menjadi korban di hari itu! Kami melihat seorang pemuda yang melakukan tugasnya, berdiri bersama kami untuk momen yang kami butuhkan, dan anda membuatnya seolah dia telah melakukan perbuatan yang tidak benar hanya karena dia adalah seorang Muslim?”
           
Imam Khalid Latif, anggota NYPD
Peristiwa yang serupa juga terjadi saat umat Muslim bermaksud untuk mendirikan sebuah masjid di wilayah Ground Zero. Ini adalah masalah yang rumit. Rumit bagi warga New York yang merasa sensitif dengan penyebutan Islam dalam kasus 9/11, juga rumit bagi warga Muslim yang menyadari posisi mereka, namun memiliki niat mulia untuk mendirikan masjid. Gelombang protes tentu saja berhamburan ke jalan, banyak pihak yang kemudian menentang dengan alasan yang beragam. Ada pula kelompok yang menganggap tidak ada masalah dengan pendirian masjid di Ground Zero. Ditengah-tengah peliknya wacana, secara mengejutkan Walikota New York kala itu, Michael Bloomberg, memutuskan untuk memberikan ijin pembangunan masjid tersebut. Dalam pidatonya di Governor’s Island, dengan didampingi oleh pemuka agama Yahudi, Kristen dan Islam Ia mengatakan bahwa “..semangat warga New York adalah toleransi, dan menghormati satu sama lain. Bukan amerika yang diserang oleh peristiwa itu, namun semangat keterbukaan dan penerimaan kita. Kita tidak boleh lupa bahwa warga Muslim juga turut menjadi korban, dan mereka terkubur bersama warga New York, warga Amerika. Oleh karena itu, kita akan menghianati nilai-nilai kita sendiri jika kita memperlakukan Muslim secara berbeda..”
            Cerita mengenai Abdul, sang pemuda Mesir yang dengan semangatnya membela hak rakyat Palestina, harus diakui itu adalah tauladan yang luar biasa. Bukan  hanya karena keberanian seorang Abdul untuk berjihad di jalan Allah, akan tetapi hal yang harus diyakini ialah bahwa Abdul melakukan itu semua atas dasar keimanan kepada Rabb-nya, dan oleh karena ia yakin dan percaya bahwa sesungguhnya sesama muslim ialah bersaudara, sebagaimana penggalan surat Al-Hujurat ayat 10. Oleh karena itu, Abdul merasa ikut bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi dengan saudara-saudara muslimnya di tanah Palestina. Ia ikut merasakan sakit dan penderitaan yang dialami saudara muslimnya. Rasa keterikatan antar muslim inilah yang menjadi alasan paling rasional bagi Abdul untuk mencita-citakan syahid di Palestina. Abdul patut berbangga, dan begitupun muslim Palestina yang sangat beruntung mendapatkan curahan perhatian, bantuan, dan doa dari seluruh umat muslim di dunia dalam setiap sholat mereka. Itu semua karena muslim bersaudara.
            Akan tetapi, di satu sisi, saya juga harus mengakui bahwa saya merasa bersalah dengan saudara-saudara Muslim di Amerika. Saya terlalu sibuk mengutuk negara itu. Saya terlalu terlena dengan segala teori konspirasi yang menjejal di kepala. Saya terlalu asik mengritik setiap kebijakan pemerintah Amerika serikat yang seringkali tidak bersahabat dengan negara-negara Muslim. Dan saya terlalu sibuk mengurusi masalah kedekatan negara itu dengan Israel, negara yang sedang menjajah tanah saudara Abdul di Palestina. Tanpa saya sadari, saya telah melupakan saudara-saudara muslim saya di negara yang tiap saat saya hujat keberadaanya itu. Saya lupa bahwa di Amerika juga ada saudara muslim saya yang juga butuh do’a dari saya, terlebih bantuan dari saya. Saya lupa bahwa mereka juga tidak setuju dengan kebijakan pemerintahnya yang tidak pro-muslim. Palestina beruntung. Mereka memiliki banyak saudara yang siap menghunus padang untuk mereka. Tapi sekiranya saya lupa bahwa saudara saya yang ada di Amerika juga butuh bantuan, butuh hunusan pedang, butuh pembelaan!
            Cerita-cerita yang saya dapatkan dari kehidupan Muslim di Amerika menggiring saya pada sebuah pertanyaan. Bukankah mereka juga Muslim? Bukankah mereka juga saudara? Bukankah mereka juga butuh untuk didoakan? Dimanakah umat Islam ketika mereka diperlakukan secara tidak adil di Amerika? Dimanakah umat muslim ketika mereka harus menghadapi situasi-situasi sulit saat peristiwa 9/11 terjadi? Atau barangkali dimanakah umat muslim ketika mereka harus mendapatkan sikap anti-Muslim oleh kelompok-kelompok yang tidak senang dengan keberadaan mereka? Singkat! Saya tidak disana. Juga tidak sebersitpun dipikiran untuk minimal mendoakan mereka. Saya tidak disana ketika orang-orang menyebarkan kebencian terhadap Muslim. Saya juga tidak bisa membantu mengecat ulang tembok-tembok masjid di Islamic Center ketika orang-orang mencoret-coret dengan cemoohan kasar! Singkatnya, saya lupa. Lupa bahwa mereka ada dan hidup di negara yang dibenci oleh sebagian umat Islam.
            Dalam situasi yang rumit, tidak banyak umat Islam di belahan dunia lain yang menyadari perjuangan umat Islam di Amerika itu sendiri. Justru mereka dibantu oleh Yahudi, Kristen, bahkan Budha yang mau untuk membuka mata bahwa ada ketidakadilan sedang terjadi di Amerika. Justru mereka yang tidak beriman kepada Allah lah yang membantu umat Islam di Amerika. Atau, itu semua karena sikap ignorance dan acuh tak acuh kita terhadap eksistensi mereka, sehingga mereka terpaksa menerima bantuan dari orang-orang yang kita sebut kafir? Dengan ini, kita harus lebih mawas diri dan memandang persoalan secara lebih jernih. Di Indonesia, di Timur Tengah, muslim adalah mayoritas. Namun sepertinya kebiasaan kita sebagai mayoritas di negara masing-masing membuat kita sombong dan buta karena merasa telah aman. Kita lupa bahwa ada saudara muslim yang hidup di berbagai negara yang disana mereka bukan mayoritas melainkan minoritas yang juga membutuhkan pertolongan sebagaimana Palestina.
            Namun, setidaknya ditengah-tengah rasa bersalah, saya harus merasa lega dan sedikit berbangga atau bahkan kagum. Sebuah teori mengatakan bahwa dalam keadaan yang terjepit, maka segala upaya akan dilakukan untuk bisa selamat. Dan itulah yang terlihat dari Muslim Amerika. Memahami dalam posisi sebagai minoritas, mereka saling bahu-membahu dalam membangun komunitas muslim. Saling mengingatkan, bahkan saling membantu dalam urusan pembangunan ekonomi. Pernah suatu kali saya mengikuti sholat Jum’at berjamaah di sebuah universitas di Philadelphia. Jangan dibayangkan bahwa ada masjid di kampus. Boro-boro masjid, mushola pun jangan harap ada. Saat itu, kami melakukan sholat Jum’at di Student Center. Saya baru bisa merasakan nilai-nilai persatuan umat ketika sholat berjamaah dengan mereka. Kulit putih, hitam, Afrika, Asia, Arab, semua dalam satu jamaah. Konsep “merapatkan barisan” yang selalu diucapakan oleh sang imam saat akan memulai sholat benar-benar dilakukan. Kaki bertemu kaki, pundak bertemu pundak. Dan yang jarang ditemui di Indonesia, para mahasiswi ikut sholat berjamaah di pojok ruangan yang berjarak lebih dari 7 meter dari barisan laki-laki yang paling belakang! Untuk hal ini, saya katakan mereka lebih fundamentalis.
Saat sholat telah usai, sang Imam cepat-cepat mengambil microphone dan memberikan pengumuman. Ia mengumumkan bahwa ada saudara muslim di wilayahnya yang sedang sakit. Ia memohon para jamaah untuk mendoakan sudaranya yang sedang sakit tersebut. Setelah sang imam selesai memberikan pengumuman, tiba-tiba seorang laki-laki maju ke depan sembari membawa sebuah kertas. Ia mengumumkan bahwa dirinya membutuhkan karyawan baru bagi usahanya. Ia menawarkan pekerjaan! Setelah selesai sholat, mereka bersalaman dan saling berpelukan. Ada pula yang langsung menyerbu imam untuk bertanya soal Islam, dengan sang imam yang sangat sabar dan telaten menjelaskan kepada saudaranya yang bertanya itu. Inilah seharunya muslim. Bukankah Allah memerintahkan umat Islam untuk bersatu dalam barisan yang teratur? Wallahua’lam.
            

Sabtu, 06 April 2013

“Kejutan di Supreme Court”

Gedung Supreme Court Amerika di Washington DC

Sebagai mahasiswa HI yang hampir tiap hari berbicara tentang Amerika, bisa dikatakan saya adalah satu diantara beberapa teman yang diberikan kesempatan untuk bisa berkunjung ke Washington DC. Di sana, jangan bayangkan anda akan menemukan pusat keramaian kota yang penuh dengan berbagai macam hiburan dimana anda bisa menemukan outlet Victoria Beckam. Jika anda mengira hal semacam itu, maka anda kemungkinan besar akan merasa kecewa. Washington sebagai ibu kota kesekian dari Amerika serikat telah diseting sedemikian rupa dan dikhususkan sebagai pusat pemerintahan. Inilah salah satu kepandaian orang Amerika. Coba bayangkan, jika anda ingin mengancurkan Indonesia, anda tinggal mengarahkan pasukan militer anda untuk menjatuhkan bomnya ke Jakarta. Dalam waktu satu hari, anda akan bisa melumpuhkan jalannya ekonomi, politik, pertahanan, data base dan media karena semua terpusat di Jakarta. Namun setidaknya, anda membutuhkan waktu lebih lama jika anda ingin menghancurkan Amerika karena peletakan pusat-pusat penting yang tersebar di berbagai negara bagian. Pusat pemerintahan di Washinton, pusat ekonomi di New York, pusat hiburan di Las Vegas dan California, pusat media di lain negara bagian.
Dalam rangkaian kunjungan kami ke DC, ada beberapa tempat yang masuk dalam daftar tempat yang harus kami kunjungi, diantaranya ialah Senate Building, Supreme Court, Capitol Building, Gedung Putih dan Departemen Luar negeri AS. Untuk kali ini, saya akan sedikit bercerita tentang kunjungan kami ke Supreme Court. Saat kami berkunjung ke Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika, rupanya bagian muka dari gedung tersebut sedang direnovasi. Seperti biasa, untuk memasuki bangunan super penting di Amerika seperti Supreme Court, kami harus melalui mekanisme security check layaknya di bandara. Dan, jangan sekali-kali mengajak senyum petugas, atau anda akan kecewa dibuatnya. Karena sudah sangat terbiasa, kami pun tidak mengalami masalah dengan hal itu. Saat kami semua masuk ke dalam, tampaklah arsitektur dan interior bagian dalam gedung yang luar biasa elegan dan penuh dengan ukiran-ukiran gaya Eropa. Dalam sebuah lorong, kami disambut dengan berbagai karya lukisan, patung dan hiasan tentang hukum dan keadilan, yang tentunya sangat filosofis. Melihat banyaknya objek menarik, tangan-tangan nan cekatan kami pun mulai menyambar kamera yang sedari tadi menggantung di leher. Tanpa aba-aba, masing-masing dari kami langsung menuju tempat favorit untuk mengambil foto. Narsis? Saya pikir anda tahu jawabannya.
Tak berapa lama kami dituntun oleh staf kami menuju sebuah hall yang isinya hanya ada tiang-tiang besar menjulang penyangga atap bangunan nan megah itu. Tidak ada apa-apa disana, hanya beberapa patung tokoh Amerika dan tentu saja security yang sedari tadi spaneng melihat tingkah polah kami yang tidak keruan. Kali ini, kami harus menunggu cukup lama di hall itu tanpa ada kegiatan apa-apa. Namun bagi kami yang menyadari betapa artistiknya ruangan itu, maka waktu yang lama pun tidak menjadi masalah selama baterai kamera masih ada. Setelah sekitar 15 menit kami menunggu, seorang guide perempuan menghampiri kami dan mengajak kami semua untuk masuk ke sebuah ruangan yang sangat mewah bak istana, megah bak limosin, dan astistik seperti wajahnya plato!
Usut punya usut, ternyata ruang itu adalah ruang sidang Mahkamah Agung Amerika Serikat, tepatnya North Walls Courtroom atau Ruang Sidang Utara. Sang guide menjelaskan tentang fungsi ruangan tersebut dan juga fungsi dari susunan kursi-kursi yang berbeda. Ia juga menjelaskan tentang mekanisme persidangan,lengkap beserta contoh kasusnya. Dengan gaya penjelasan yang efektif dan efisien (baca: terlalu cepat), dan diiringi dengan nyamannya kursi di ruang sidang itu, sebagian besar teman saya pun ‘memutuskan’ untuk sedikit memejamkan mata dan menikmati suasana, alias tidur!  Walaupun dengan mata yang terkantuk-kantuk pula, saya tetap berjuang untuk mendengarkan sang guide. Tiba-tiba saja saya terbangun dan terkaget-kaget ketika sang guide menjelaskan sebuah pahatan lukisan yang ada di sekeliling  plafon berbentuk kubah diatas kami. Dalam sekejap perhatian saya langsung tertuju kepada sang guide yang menyebut kata Muhammad dalam gambar itu. Sambil mengangkat satu alis, alias dengan ekspresi tidak percaya, saya pun mendongak ke atas dan melihat lukisan berupa pahatan yang sangat indah di dinding bagian bawah plafon. Sembari memperhatikan dengan mata yang kini berpijar 100 watt, saya mendengarkan penjelasan si mbak-mbak guide. Ia menunjukkan tangannya ke arah sebuah gambar seseorang yang memakai pakaian ala jubah Arab, lengkap dengan surban di kepala dan jubah panjang. Pada tangan kiri gambar tersebut memegang sebilah pedang, sedangkan di tangan kanan memegang sebuah buku. Saya tak yakin buku apa itu, tapi sang guide berkata bahwa itu adalah gambar dari Muhammad, tanpa embel-embel kata prophet didepannya, yang artinya adalah nabi. Gambar itu memegang sebilah pedang disatu tangan dan Al Qur’an di tangan lainnya. Karena masih merasa tidak percaya, dalam hati saya berkata “ah, ada ribuan nama Muhammad di dunia ini, dan mungkin saja gambar itu bukan yang saya maksud!”
            Setelah pemaparan dan sesi tanya jawab usai, kami di giring keluar ruangan. Karena masih merasa penasaran, saya pun memberanikan diri untuk bertanya kepada sang guide siapakah gambar itu sebenarnya. Saya berkata, apakah itu gambar Nabi Muhammad? Guide itu hanya menjawab “Saya tidak tahu, yang saya tahu, lukisan itu ialah lukisan Muhammad”. Saya keluar dari gedung dengan hati yang penuh tanya. Bagi seorang kuper seperti saya, rasa-rasanya tidaklah mungkin orang Amerika menempatkan Nabi Muhammad di sebuah bangunan yang dianggap simbol keadilan bagi Amerika, sebuah negara yang selama ini dimusuhi oleh mayoritas Muslim.
Rasa penasaran saya tidak berhenti disitu saja. Saat waktu senggang, saya bertanya kepada pihak yang diakui oleh seluruh umat sebagai tempat berlabuh, Google. Sembari menggeser-geser kursor, hati saya masih merasa campur aduk dengan informasi yang baru saja saya dapat. Di satu sisi saya paham bahwa walaupun ada kemungkinan, namun kecil adanya dalam konteks negara seperti Amerika untuk meletakkan Nabi Muhammad dalam sebuah bagunan simbol kedigdayaan negaranya. Kedua, kalaupun benar demikian, saya pun masih sedikit galau antara marah atau justru bangga. Marah karena sangat terlarang bagi siapapun untuk mendeskripsikan Nabi Muhammad dalam bentuk gambar, terlebih pahatan, namun juga ada rasa bangga karena berarti Nabi Muhammad dianggap sebagai sosok besar yang memberikan tauladan tentang keadilan. Saat loading selesai, berikut adalah informasi yang saya dapat.
Bangunan Supreme Court merupakan hasil karya desainer Cass Gilbert. Namun dalam hal interior khususnya ukiran dinding dalamnya dibuat oleh seorang pemahat bernama Adolph A. Weinnman. Rupanya, saat Weinnman hendak melakukan pekerjaannya, ia memiliki ide untuk membuat pahatan lukisan dari tokoh-tokoh yang menggambarkan kegunaan dari Supreme Court sebagai penegak hukum di Amerika. Kemudian Weinnman mengambil tema Great Lawgivers of History, yakni catatan perjalanan sejarah hukum dunia yang kemudian diisi oleh para tokoh yang telah berjasa dalam bidang hukum di dunia. Dengan gagasan itu, Weinnman memutuskan untuk memasukkan nama Nabi Muhammad sebagai salah satu diantara tokoh-tokoh tersebut. Ia melakukan itu sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad atas jasa besar beliau dalam memajukan hukum dunia lewat Islam. Dalam pengerjaannya, catatan perjalanan sejarah hukum dunia dibagi ke dalam dua rangkaian. Satu rangkaian yang berisi tokoh-tokoh seperti Menes yang hidup sejak 3200 SM, hingga Octavian (62 SM) ditempatkan pada ukiran dinding South Walls Courtroom, atau ruang sidang selatan. Sedangkan kelanjutannya yakni mulai Justinian (483-565) M, kemudian Nabi Muhammad (570-632) M hingga terakhir Napoleon (1769-1821) ditempatkan di North Walls Courtroom.

Ukiran Nabi Muhammad membawa Pedang dan Alqur'an
di North Walls Courtroom

            Dengan meyakini bahwa gambar itu memang benar gambar Nabi Muhammad, maka muncul pertanyaan baru dalam benak saya. Tidak adakah seorang muslim pun yang protes karena Islam sangat tegas melarang bentuk deskripsi Nabi dalam bentuk gambar? Usut punya usut, ternyata untuk masalah ini pun ada sejarahnya sendiri. Dalam tulisannya di Kompas, Hanny Rono menjelaskan secara cukup gamblang. Berikut saya copy paste cerita beliau tentang hal ini.
“Pada tahun 1997 the Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengajukan petisi keberatan ke pengadilan yang menghendaki agar pahatan sosok Nabi Muhammad saw. dihilangkan dari hiasan dinding tersebut dengan alasan bahwa pertama, Islam tidak mengajarkan ataupun mendorong umatnya untuk menvisualisasi nabi-nabi, hal ini bertujuan untuk menghindarkan kemungkinan penyembahan kepada para nabi. Kedua, Pada pahatan tersebut Nabi Muhammad saw. digambarkan membawa pedang, hal ini dapat dikatakan semakin memperkuat pandangan sinis negatif terhadap Islam yang dianggap sebagai penakluk yang tidak toleran. Sedangkan alasan yang ketiga, bahwa ternyata dalam setiap dokumen-dokumen dan pamflet-pamflet yang berisi publikasi arsitektur gedung, telah salah menyebutkan Muhammad sebagai sang pendiri Islam “the Founder of Islam”, padahal dalam pandangan Islam, beliau adalah sang penerus nabi-nabi sebelumnya termasuk Abraham (Ibrahim as.), Moses (Musa as.), dan Jesus (Isa as.), dan menjadi nabi yang terakhir. William H. Rehnquist, Ketua Mahkamah Agung Amerika saat itu, menolak petisi CAIR dengan alasan bahwa penggambaran Nabi Muhammad saw. di ukiran dinding tersebut dimaksudkan sebagai bentuk pengakuan dan memperkenalkan beliau sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah hukum dunia, bukan dimaksudkan untuk memvisualisasi fisik sebagai penyembahan kepada beliau.”
Nah, lebih lanjut menurut Hanny, untuk menjawab tuntutan dari CAIR tersebut, William mengatakan bahwa sebenarnya pemaknaan pedang yang dipegang oleh Nabi Muhammad bukanlah seperti apa yang dikatakan oleh CAIR. Sebaliknya, pedang diartikan sebagai simbol keadilan. Karena jika melihat patung-patung atau pahatan yang lain seperti Lady of Justice juga memegang pedang. Lalu, sebagai jalan tengah dari masalah tersebut, disepakatilah adanya gubahan dalam penjelasan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi Agama Islam, bukan Pendiri Islam. Belum selesai sampai disitu, pahatan Nabi Muhammad tersebut dituangkan dalam penjelasan dalam rangka penghormatan dari sang pemahatnya untuk Nabi Muhammad, bukan untuk memvisualisasikan Nabi Muhammad. Oleh karena saya masih melihat sendiri secara langsung dengan mata kepala sendiri, maka saya berani meyakinkan anda bahwa sampai saat ini gambar itu masih ada. Wallahua'lam...



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger