Kamis, 14 Maret 2013

Ilmu dan Keimanan


Ilmu dalam Islam mendapat perhatian yang sangat besar. Di dalam Al-Qur’an sendiri Allah SWT telah berulang kali menyebutkan betapa pentingnya bagi manusia untuk berilmu, hingga Allah mewajibkan bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu. Sebuah hadist mengatakan bahwa “barang siapa menginginkan dunia,  ada ilmunya. Siapa saja yang menginginkan akhirat, ada ilmunya. Siapa saja yang menginginkan keduanya, ia perlu kedua ilmu.”
Kita tentunya sudah sangat paham bahwa ayat dalam Al-Quran yang pertama kali turun ialah Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Jika kita perhatikan dan cermati secara bijaksana, maka kita dapat memahami logika berfikir Islam yang sangat sederhana. Pernahkah kita sedikit berfilsafat, jika Islam semata-mata hanya sebagai sebuah institusi agama yang menyediakan doktrin penghambaan yang mutlak, mengapa dalam Islam bukan perintah untuk Sholat yang pertama kali diturunkan? Sederhana saja, konsep tentang ibadah atau pengabdian kepada Allah pada dasarnya merupakan sebuah penyerahan diri manusia sepenuhnya kepada Allah. Menjadi sangat aneh jika perintah yang diturunkan pertama kali adalah perintah untuk sholat, untuk melakukan penyembahan dan pengabdian, tanpa tahu siapa yang hang harus disembah, dan mengapa harus menyembah. Oleh karena itu, perintah yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad ialah Iqra, yang berarti bacalah. Namun, kata Iqra’ hanyalah permulaan ayat, karena sesungguhnya ayat ini berbicara tentang makna ketauhidan yang sangat tinggi yakni “bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” Artinya bahwa dalam logika sederhana berfikir Islam, manusia haruslah mengerti dan paham tentang konsep ketauhidan terlebih dahulu. Manusia harus tahu dan paham siapa yang mereka sembah. Singkatnya, manusia harus memiliki ilmu tentang Tuhannya terlebih dahulu. Logika sederhana ini juga dapat kita jumpai dari pemaknaan urutan kelima rukun Islam. Sebagaimana kita pahami, bahwa rukun pada dasarnya mensyaratkan adanya perihal yang dilakukan secara berurutan, tidak boleh terbalik-balik. Oleh karena itu, konsep tentang Syahadatain ialah rukun yang pertama kali harus dilakukan sebelum Sholat. Hal ini menandakan bahwa di dalam Islam, Ilmu tentang Allah atau yang biasa kita sebut dengan Aqidah ialah ilmu yang paling pertama harus kita pelajari.
            Dalam era kontemporer seperti sekarang ini, terdapat beragam ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Kemajuan teknologi yang terjadi saat ini merupakan hasil dari ilmu yang telah didapat oleh eksperimen manusia dari alam semesta selama berabad-abad. Ketelitian dan keseriusan manusia dalam berfikir untuk mendapatkan ilmu dari alam telah membawa kemajuan dalam peradaban manusia. Dalam satu sisi, hal ini tentu sangat baik karena sejalan dengan firman Allah sendiri bahwa bumi dan seisinya ini memang diciptakan untuk manusia. Akan tetapi, dalam era yang semakin pesat perkembangan ilmu pengetahuannya, nampaknya terdapat perubahan mindset bahwa kebenaran yang ada pada ilmu pengetahuan dalam hal ini science,  dianggap sebagai suatu kebenaran yang mutlak dan absolut. Berangkat dari sinilah kemudian manusia justru mulai ‘menuhankan’ sifat-sifat positivisme dan bahkan justru digunakan untuk menolak eksistensi Tuhan karena manusia merasa bisa mmbuktikan segala sesuatu dengan jalan rasionalisasi dan pembuktian ilmiah.
            Capa pandang manusia yang menuhankan positivisme dan rasionalisme sebagai suatu kebenarah mutlak dan cenderung digunakan sebagai “alasan” untuk menolak keberadaan Tuhan tersebut justru berkontradiksi dengan konsep ilmu yang ada dalam Islam. Dalam Islam, kebenaran yang sifatnya mutlak dan tidak dapat diganggu gugat sejatinya ialah berasal dari Tuhan yang dengan jelas diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 174 bahwa; “kebenaran itu adalah berasal dari Tuhanmu. Jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang-orang yang ragu-ragu.” Hal ini menjelaskan bahwa dalam Islam, Wahyu dan Sunnah memiliki nilai kebenaran yang mutlak (al haqiqiah al muthlaqah) karena berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, kebenaran yang didapat oleh manusia dari alam semesta ini justru meupakan kebenaran yang bersifat nisbi atau relatif. Dari sinilah kita mengenal adanya ayat Qauliyah dan ayat Kauniyah. Ayat Qauliyah merupakan ilmu yang terdapat dalam firman Allah dalam Al-Qur’an. Firman Allah inilah yang memiliki hukum sebagai kebenaran mutlak atau absolut sebagaimana penjelasan surat Al-Baqarah ayat 174 diatas. Akan tetapi manusia juga dapat memperoleh kebenaran melalui apa yang disebut ayat Kauniyah atau al kaun yang berarti semesta. Dalam ayat Kauniyah inilah manusia akan menemukan kebenaran yang nisbi dan  bersifat eksperimentatif atau al haqiqah at tajribiyah. Oleh karena itu, banyak kita jumpai teori-teori yang gugur dan digantikan oleh teori baru seiring dengan upaya manusia melakukan eksperimentasi.
            Jelaslah sudah bahwa kebenaran yang ada di alam sesesta ini bersifat relatif, sedangkan yang absolut ialah kebenaran dari Allah. Oleh karena itu kebenaran yang bersifat mutlak seharusnya menjadi landasan berpikir bagi kebenaran yang hanya bersifat relatif. Maknanya, bahwa dalam memahami ilmu pengetahuan tentang alam semesta, manusia semestinya menggunakan kerangka dasar berpikir berdasarkan iman kepada Allah, bahwa dibalik kebenaran yang relatif tersebut, terdapat suatu kebenaran mutlak yang mengatur kebenaran relatif tersebut. Bahwa apapun yang terjadi di alam semesta ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah sebagai pengatur segalanya. Hal ini merupakan bukti bahwa Allah dalam surat Al-‘Alaq yang merupakan wahyu pertama, telah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk tidak hanya sekedar ‘membaca’ akan tetapi “bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan.” Artinya, manusia harus menuntut ilmu berdasarkan iman kepada Allah. Begitu pula sebaliknya, untuk beriman kepada Allah, manusia harus pula berilmu karena berilmu tanpa keimanan berarti kesesatan, sedangkan beriman tanpa berilmu begaikan hidup dalam kebutaan.

Rabu, 13 Maret 2013

“Merubah Paradigma Kepemimpinan Mahasiswa”


Oleh: Andika Kelana Putra



“Mahasiswa adalah agen perubahan”. Kalimat inilah yang seringkali ‘dikambing hitamkan’ oleh mereka yang mengaku sebagai aktivis kampus. Dengan menyandang status sebagai agen perubahan, para mahasiswa sebenarnya tidak perlu berbangga diri terlebih besar kepala. Jika kita resapi maknanya, kata agen atau yang dalam bahasa Inggris disebut agent mengandung konsekuensi logis adanya tindakan atau action yang nyata, bukan hanya sekadar retorika. Tidak hanya berhenti disitu, konsekuensi lanjut dari action sebagai agen ialah tanggung jawab yang tidak ringan. Dalam konteks ‘agen perubahan’, sebenarnya inti dari frase ini terletak pada kata perubahan itu sendiri. Bukan berarti bahwa sang agen menjadi tidak penting. Sebaliknya dalam memaknai sebuah tindakan, para mahasiswa harus sadar dan paham betul alasan mengapa mereka harus bertindak. Dalam bahasa sederhana, aksi nyata yang dilakukan sang agen haruslah memiliki dasar atau tujuan yang tidak lain adalah  perubahan itu sendiri.
Pada hakikatnya kata ‘perubahan’ mengandung makna logis berupa proses, entah dalam bentuk transisi ataupun transformasi. Inilah yang seringkali dilupakan bahwa meskipun tujuan yang ingin dicapai ialah perubahan, akan tetapi penilaian sesungguhnya terletak pada proses yang dilalui. Melalui proses itulah para mahasiswa dapat belajar bagaimana menjadi pribadi yang berintegritas. Sebaliknya, jika kita lebih berorientasi pada tujuan atau hasil, kita hanya akan terjebak pada ambisi dan cenderung melupakan esensi sebuah proses. Sederhana saja, seorang mahasiswa kedokteran yang memiliki motivasi untuk menjadi dokter, namun ternyata dalam pembuatan skripsinya justru melakukan plagiarisme terhadap hasil karya orang lain. Ini adalah salah satu ekses yang dihasilkan ketika mahasiswa hanya berorientasi pada hasil, bukan memaknai proses. Bukankah menjadi dokter yang bermanfaat bagi banyak orang merupakan sebuah motivasi untuk melakukan perubahan? Akan tetapi ia lupa bahwa untuk menjadi seorang dokter diperlukan integritas tinggi. Bahwa ketika tengah malam datang seorang pasien yang meminta pertolongan darurat, seorang dokter tidak boleh menolak permintaan sang pasien.
            Mindset mahasiswa sebagai agen perubahan nampaknya juga harus segera dirubah. Dalam logika sederhana sebuah bisnis, agen hanyalah penerus dari perusahaan yang menciptakan sebuah produk. Ia bukanlah pembuat produk. Sebaliknya, ia hanyalah aktor yang berjasa dalam mendistribusikan produk untuk bisa sampai ke tangan konsumen. Sederhananya, agen bukanlah inisiator. Oleh karena itu, meminjam istilah dari seorang aktivis kampus, mahasiswa sebagai suatu kesatuan aktor sudah sepantasnya menjadi leader of change atau pemimpin perubahan. Hal ini juga beriringan dengan status ‘eksklusif’ mahasiswa sebagai kaum cendekiawan. Dengan memikul status tersebut, mahasiswa memiliki fungsi yang lebih startegis untuk bisa menjadi inisiator perubahan melalui bidang yang didalami oleh masing-masing.
            Menjadi inisiator perubahan bukan pula urusan yang mudah karena harus memiliki sifat inisiatif. Untuk menjadi seorang yang inisiatif, mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Inilah yang seringkali disepelekan. Budaya hedonisme dan hura-hura seakan telah menjadi kebiasaan yang berdampak pada butanya mata hati untuk melihat kondisi sosial yang terus bergerak secara dinamis. Di kota New York, terdengar sebuah cerita tentang peran pemuda yang tergerak melakukan perubahan karena berangkat dari rasa kepekaan sosial. Minggu pagi tanggal 6 Maret 2011, tepat sepuluh tahun setelah peristiwa terorisme 11 September, Time Square mendapatkan pengunjung lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ingin melihat gemerlap kota tersebut, namun mereka berkumpul untuk menyuarakan sesuatu. Dari kejauhan terdengar jelas suara tiga anak perempuan yang sedang berpidato dengan penuh semangat, seolah apa yang mereka katakan sangat penting untuk didengar oleh warga New York.  Dengan penuh kepercayaan diri, ketiganya menyampaikan pidato pembelaan terhadap komunitas Muslim di New York yang sedang mendapat diskriminasi. Di depan banyak orang, ketiganya berkata dengan lantang, “meskipun kami hanya anak-anak, namun kami sangat paham bahwa tidaklah benar untuk memperlakukan siapapun dengan tidak adil hanya karena kepercayaan agama mereka!”
Tiga perempuan kecil tersebut merupakan bagian dari aksi protes 150 organisasi kemasyarakatan terhadap sikap seorang anggota kongres Amerika Serikat bernama Peter King yang menuduh Islam sebagai sumber radikalisme dan kekerasan. Apa yang dilakukan oleh tiga anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama tersebut merupakan respon terhadap ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat Amerika. Bagi anak seusia mereka, bermain dan bersenang-senang adalah hal yang lebih masuk akal untuk dilakukan daripada harus susah payah berpidato didepan umum untuk membela orang-orang yang mungkin tidak mereka kenal. Akan tetapi kepekaan sosial lah yang telah membimbing hati nurani mereka untuk mengatakan bahwa, “ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi!”. Kesadaran itulah yang kemudian memunculkan inisiatif untuk melakukan sesuatu. Apa yang mereka lakukan mungkin bisa dianggap hal sepele. Akan tetapi bagi warga Muslim New York yang sedang mengalami ketidakadilan,  melihat tiga anak perempuan non-Muslim berkata lantang didepan umum membela hak-hak warga Muslim, maka hal itu adalah tindakan yang sangat bermakna dalam membawa perubahan.
 Sebutan ‘pemimpin perubahan’ juga menyaratkan adanya sifat ketauladanan. Tidaklah masuk akal bagi seorang duta anti narkoba untuk ikut mengonsumsi narkoba. Oleh karena itu tugas seorang pemimpin perubahan selain memiliki kepekaan sosial dan inisiatif yang tinggi, juga harus bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Hal ini sekali lagi bukan perkara mudah. Seseorang bisa memberikan inspirasi ketika ia berhasil membuktikan komitmennya untuk menjadi contoh bagi yang lain. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa seorang pemahat bernama Adolph A. Weinnman telah membuat ukiran Nabi Muhammad di atas ruang sidang Mahkamah Agung Amerika Serikat. Bagi sebuah negara sekuler seperti Amerika, memasukkan tokoh agama pada bangunan yang menjadi simbol keadilan negara tersebut bukanlah hal populer untuk dilakukan. Namun tidak banyak pula orang yang paham bahwa alasan Weinnman melakukan itu berangkat dari  kekagumannya terhadap Nabi Muhammad atas jasa besar beliau dalam memajukan hukum di dunia. Ia mengabadikan sosok Nabi Muhammad sebagai salah satu diantara tokoh-tokoh pemimpin dunia yang telah memberikan inspirasi dalam menegakkan keadilan.  Hal ini membuktikan bahwa seorang leader of change sejatinya ialah mereka yang bisa memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitar melalui action nyata, yang pada akhirnya akan menjadikan inspirasi bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, mahasiswa harus mulai merubah mindset untuk tidak lagi hanya sebatas menjadi agen, namun pemimpin perubahan yang mampu memberikan inspirasi. Pada akhirnya, mahasiswa juga sudah selayaknya beralih ke paradigma baru bahwa tidak cukup hanya bervisi sebagai pemimpin masa depan. Lebih spesifik, mahasiswa harus bervisi sebagai pemimpin besar, untuk masa depan yang besar pula.






Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger