Senin, 08 April 2013

“Mereka Juga Muslim!”



Kita seringkali mendengar berbagai kisah tantang syahidnya para mujahid di tanah Palestina. Tidak bisa dipungkiri bahwa konflik yang terjadi antara Israel dengan Palestina, atau jika boleh disebut sebagai konflik antara pemerintah Israel vis a vis Hamas telah mengundang perhatian dari umat Islam di seluruh dunia. Terlepas dari berbagai anggapan tentang Hamas dan Israel, peperangan yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun di tanah Jerusaalem itu telah dijadikan sebagai ‘ladang jihad’ bagi umat muslim. Berbondong-bondong umat muslim di berbagai belahan bumi mengirimkan para mujahid unggulan mereka untuk memerangi tentara Israel.
            Diantara beribu kisah tentang mujahid Palestina, ada sebuah cerita yang sangat menarik dituturkan oleh Syeikh Yusuf Qardhawi tentang seorang pemuda Mesir bernama Abdul Wahab al-Bituni. Abdul ialah seorang pemuda yang belum lulus SMU. Semangat jihadnya untuk bisa berdiri di barisan umat Muslim di Palestina sudah tidak lagi bisa dibendung. Alasan yang paling rasional sekaligus tidak rasional bagi Abdul untuk bisa berjihad di Palestina bukanlah untuk mendapatkan penghargaan dari pemerintah Mesir. Ia berjihad hanya untuk satu tujuan, yakni syahid.  Akan tetapi tidak mudah bagi seorang pemuda Mesir seperti Abdul untuk bisa berangkat ke tanah Palestina dan mengangkat senjata melawan tank-tank Israel, terlebih menghadapi kenyataan bahwa ia adalah putra semata wayang dari seorang janda. Ibu manakah yang rela melepaskan putranya untuk pergi berperang melawan tank Israel? Bagi seorang ibu, tidak ada alasan yang paling rasional untuk memberikan ijin kepada seorang anak yang meminta untuk bisa mati syahid dalam peperangan, kecuali karena keimanannya kepada Allah. Sayangnya, itu adalah cita-cita Abdul. Ia mengerti betul bahwa ibunya tidak akan mengijinkannya. Hingga kemudian Syeikh Qardhawi sendirilah yang meyakinkan sang ibu. Ulama itu mengatakan bahwa bukan jihad yang akan menentukan matinya seseorang, namun ketentuan Allah.
            Setelah mengantongi ijin dari ibunya, bukan berarti ia bisa berangkat ke medan perang. Aturan yang dibuat Ikhwanul Muslimin mengharuskan pemuda seusia Abdul untuk mendapat ijin langsung dari Hasan Al Banna sendiri. Dengan perasaan mantab dan dibayangi oleh kegembiraan untuk bisa syahid di tanah Palestina, Abdul dan Syeikh Qardhawi menuju Kairo dan menemui Hasan Al-Banna untuk meminta ijin. Stelah ijin berhasil ia kantongi, Ia bersama-sama dengan ribuan mujahid lain dilepas dari Kairo. Semangat yang menggebu-gebu yang ada dalam dada Abdul telah membawanya dalam medan pertempuran. Sekali lagi hanya satu yang ia inginkan, syahid di tanah Palestina, dan ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Abdul syahid saat bertempur melawan tentara Israel.
            Kisah Abdul ini hanya satu dari ribuan kisah heroik para mujahid yang berangkat ke Palestina untuk apa yang mereka imani. Sebagaimana Abdul, alasan bagi para mujahid untuk berjihad ialah untuk syahid. Bukan main-main, kata syahid telah diagungkan karena mengandung sebuah garansi dari Allah bahwa mereka yang mati secara syahid akan mendapatkan surga.
            Di belahan bumi lain, bukan di Timur Tengah, bukan juga di negara Islam atau bermayoritas penduduk Islam, namun di sebuah negara yang sangat terkenal dengan sekulerismenya, terdengar pula sebuah cerita yang tidak kalah menarik. Minggu pagi tanggal 6 Maret 2011, tepat sepuluh tahun setelah peristiwa terorisme 11 September, di Time Square, sebuah daerah di kota New York hari itu mendapatkan pengunjung lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ingin melihat gemerlap Time Square, namun ratusan orang berkumpul untuk menyuarakan sesuatu. Dalam kerumunan tersebut, terdapat sebuah panggung yang disetting sederhana dengan backdrop bendera Amerika Serikat yang cukup besar. Dari kejauhan terdengar jelas suara tiga perempuan kecil yang sedang berpidato dengan penuh semangat, seolah apa yang mereka katakan ialah penting untuk didengar oleh masyarakat New York.  Dengan penuh kepercayaan diri, ketiganya menyampaikan pidato pembelaan terhadap sebuah komunitas di New York yang sedang mendapat diskriminasi dari seorang anggota Kongres. Mereka mengatakan, meskipun hanya anak-anak, namun mereka sangat paham bahwa tidaklah benar untuk memperlakukan siapapun dengan tidak adil hanya karena kepercayaan agama mereka. Siapakah sebenarnya ketiga anak kecil ini? Siapa yang sedang mereka perjuangkan?
           
Anggota Kongres Peter King yang menuduh Islam
sebagai sumber radikalisme
Tiga perempuan kecil tersebut merupakan bagian dari aksi protes 150 organisasi kemasyarakatan terhadap sikap seorang anggota kongres Amerika Serikat bernama Peter King yang menuduh Islam sebagai sumber radikalisme dan kekerasan. Diantara 150 organisasi tersebut, seratus dari organisasi non-Muslim. Hal ini mereka lakukan karena Peter King telah mengeluarkan pernyataan yang sangat tidak mengenakkan dan menyinggung umat Islam. Mereka khawatir bahwa apa yang dilakukan oleh Peter King akan memberikan label Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan terorisme. Uniknya, aksi protes yang sebagian besar dihadiri oleh non-Muslim mengambil tema “Today, I am a Moslem Too!”. Bukan hanya ketiga anak kecil tersebut yang menyampaikan pembelaanya terhadap umat Islam di Amerika, namun juga para tokoh-tokoh agama Yahudi, Katolik, dan Protestan. Salah satunya ialah Imam Syamsi Ali, seroang Imam asli Indonesia yang bermukim di New York dan menjadi imam dari Jamaican Muslim Community. Daiantara kerumunan massa, seorang wanita Afrika-Amerika, sambil memegang poster berisi dukungan terhadap Islam mengatakan kepada peliput acara sambil menghadap ke kamera “Hari ini saya adalah muslim, bagaimana dengan anda?”

Simpatisan aksi damai "Today I'm a Mosem Too"
 di depan Time Square
           Sekitar empat blok dari tempat mereka melakukan aksi protes, terdapat pula sebuah kerumunan massa dari pendukung Peter King. Mereka menyatakan dukungannya terhadap Peter King dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Peter King adalah hal yang benar. Mendapati bahwa komunitas Muslim sedang melakukan aksi serupa,  para pendukung Peter King menyatakan sikap ketidaksukaan mereka terhadap aksi yang dilakukan oleh komunitas Muslim. Salah satu orator dari aksi tersebut mengatakan “Hari ini saya merasa dilecehkan dan diserang oleh mereka yang melakukan aksi “Today I’m a moslem Too.” Saya ingin mengatakan kepada Imam Syamsi Ali bahwa hari ini saya bukan Muslim!”.
           
Ditemani rintik gerimis kota New York, para peserta aksi damai
berkumpul untuk menyuarakan kritikan mereka terhadap Petter King
Cerita tentang pembelaan komunitas non-muslim terhadap umat Islam di New York sebagaimana terjadi dalam aksi “Today, I am a Moslem Too!” telah menyedot perhatian publik melalui media massa, memberikan gagasan ide tentang objektivitas bagi mereka yang hanya sekadar lewat atau mereka yang memang tertarik dengan aksi itu, bergabung dengan para pendukung Muslim dan pulang ke rumah dengan pandangan baru seraya mengatakan kepada putranya, “nak, Islam bukan agama teroris!” Publik mungkin bisa dengan jelas mendapatkan informasi bahwa rakyat Amerika yang bukan muslim pun mau untuk membela hak-hak Muslim. Namun masih banyak pula cerita yang tidak seberuntung itu untuk bisa dipahami.
            Pada tahun yang sama, seorang polisi Muslim sekaligus Imam bernama Khalid Latif sedang menjalankan tugasnya. Bukan sembarang tugas, namun ia bertugas di Ground Zero mengawal peringatan peristiwa 9/11 yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Sebagaimana pada umumnya polisi, Imam Khalid mengenakan seragam polisi, hanya saja ia memiliki jenggot dan memakai kopiah, yang mungkin jarang dilakukan oleh polisi manapun saat bertugas, terasuk di Indonesia. Di negara yang sedang memiliki tensi dengan terorisme yang sekali lagi dicitrakan dengan Islam, adalah hal yang patut dihargai ketika seorang polisi tanpa ragu menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Di tengah-tengah tugasnya, tiba-tiba ia di datangi oleh tiga orang laki-laki berjas berkata kepada Imam, “Kami perlu memeriksa lencanamu, karena intelejen mengamati anda dari atas gedung dan kami ingin meyakinkan siapa anda sebenarnya, hanya untuk berjaga-jaga.” Merasa tidak bersalah, lalu Imam berkata, “berjaga-jaga untuk apa?” Kemudian salah satu dari ketiganya berkata kepada Imam, “kami minta maaf karena kami harus melakukan ini kepada anda.” Karena semakin heran dengan perlakuan ketiganya, Imam kembali bertanya, “lalu mengapa kalian melakukan ini?” Keributan kecil ini ternyata mendapat perhatian banyak orang yang sedang khusyu mengenang anggota keluarganya. Lalu tiba-tiba seorang keluarga yang berdiri tidak jauh dari Imam mendekati keempatnya. Seorang ibu dari keluarga tersebut berkata kepada ketiga laki-laki tersebut. “Apa yang anda sedang lakukan sekarang ialah hal yang lebih tidak menghormati anggota keluarga tercinta kami yang telah menjadi korban di hari itu! Kami melihat seorang pemuda yang melakukan tugasnya, berdiri bersama kami untuk momen yang kami butuhkan, dan anda membuatnya seolah dia telah melakukan perbuatan yang tidak benar hanya karena dia adalah seorang Muslim?”
           
Imam Khalid Latif, anggota NYPD
Peristiwa yang serupa juga terjadi saat umat Muslim bermaksud untuk mendirikan sebuah masjid di wilayah Ground Zero. Ini adalah masalah yang rumit. Rumit bagi warga New York yang merasa sensitif dengan penyebutan Islam dalam kasus 9/11, juga rumit bagi warga Muslim yang menyadari posisi mereka, namun memiliki niat mulia untuk mendirikan masjid. Gelombang protes tentu saja berhamburan ke jalan, banyak pihak yang kemudian menentang dengan alasan yang beragam. Ada pula kelompok yang menganggap tidak ada masalah dengan pendirian masjid di Ground Zero. Ditengah-tengah peliknya wacana, secara mengejutkan Walikota New York kala itu, Michael Bloomberg, memutuskan untuk memberikan ijin pembangunan masjid tersebut. Dalam pidatonya di Governor’s Island, dengan didampingi oleh pemuka agama Yahudi, Kristen dan Islam Ia mengatakan bahwa “..semangat warga New York adalah toleransi, dan menghormati satu sama lain. Bukan amerika yang diserang oleh peristiwa itu, namun semangat keterbukaan dan penerimaan kita. Kita tidak boleh lupa bahwa warga Muslim juga turut menjadi korban, dan mereka terkubur bersama warga New York, warga Amerika. Oleh karena itu, kita akan menghianati nilai-nilai kita sendiri jika kita memperlakukan Muslim secara berbeda..”
            Cerita mengenai Abdul, sang pemuda Mesir yang dengan semangatnya membela hak rakyat Palestina, harus diakui itu adalah tauladan yang luar biasa. Bukan  hanya karena keberanian seorang Abdul untuk berjihad di jalan Allah, akan tetapi hal yang harus diyakini ialah bahwa Abdul melakukan itu semua atas dasar keimanan kepada Rabb-nya, dan oleh karena ia yakin dan percaya bahwa sesungguhnya sesama muslim ialah bersaudara, sebagaimana penggalan surat Al-Hujurat ayat 10. Oleh karena itu, Abdul merasa ikut bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi dengan saudara-saudara muslimnya di tanah Palestina. Ia ikut merasakan sakit dan penderitaan yang dialami saudara muslimnya. Rasa keterikatan antar muslim inilah yang menjadi alasan paling rasional bagi Abdul untuk mencita-citakan syahid di Palestina. Abdul patut berbangga, dan begitupun muslim Palestina yang sangat beruntung mendapatkan curahan perhatian, bantuan, dan doa dari seluruh umat muslim di dunia dalam setiap sholat mereka. Itu semua karena muslim bersaudara.
            Akan tetapi, di satu sisi, saya juga harus mengakui bahwa saya merasa bersalah dengan saudara-saudara Muslim di Amerika. Saya terlalu sibuk mengutuk negara itu. Saya terlalu terlena dengan segala teori konspirasi yang menjejal di kepala. Saya terlalu asik mengritik setiap kebijakan pemerintah Amerika serikat yang seringkali tidak bersahabat dengan negara-negara Muslim. Dan saya terlalu sibuk mengurusi masalah kedekatan negara itu dengan Israel, negara yang sedang menjajah tanah saudara Abdul di Palestina. Tanpa saya sadari, saya telah melupakan saudara-saudara muslim saya di negara yang tiap saat saya hujat keberadaanya itu. Saya lupa bahwa di Amerika juga ada saudara muslim saya yang juga butuh do’a dari saya, terlebih bantuan dari saya. Saya lupa bahwa mereka juga tidak setuju dengan kebijakan pemerintahnya yang tidak pro-muslim. Palestina beruntung. Mereka memiliki banyak saudara yang siap menghunus padang untuk mereka. Tapi sekiranya saya lupa bahwa saudara saya yang ada di Amerika juga butuh bantuan, butuh hunusan pedang, butuh pembelaan!
            Cerita-cerita yang saya dapatkan dari kehidupan Muslim di Amerika menggiring saya pada sebuah pertanyaan. Bukankah mereka juga Muslim? Bukankah mereka juga saudara? Bukankah mereka juga butuh untuk didoakan? Dimanakah umat Islam ketika mereka diperlakukan secara tidak adil di Amerika? Dimanakah umat muslim ketika mereka harus menghadapi situasi-situasi sulit saat peristiwa 9/11 terjadi? Atau barangkali dimanakah umat muslim ketika mereka harus mendapatkan sikap anti-Muslim oleh kelompok-kelompok yang tidak senang dengan keberadaan mereka? Singkat! Saya tidak disana. Juga tidak sebersitpun dipikiran untuk minimal mendoakan mereka. Saya tidak disana ketika orang-orang menyebarkan kebencian terhadap Muslim. Saya juga tidak bisa membantu mengecat ulang tembok-tembok masjid di Islamic Center ketika orang-orang mencoret-coret dengan cemoohan kasar! Singkatnya, saya lupa. Lupa bahwa mereka ada dan hidup di negara yang dibenci oleh sebagian umat Islam.
            Dalam situasi yang rumit, tidak banyak umat Islam di belahan dunia lain yang menyadari perjuangan umat Islam di Amerika itu sendiri. Justru mereka dibantu oleh Yahudi, Kristen, bahkan Budha yang mau untuk membuka mata bahwa ada ketidakadilan sedang terjadi di Amerika. Justru mereka yang tidak beriman kepada Allah lah yang membantu umat Islam di Amerika. Atau, itu semua karena sikap ignorance dan acuh tak acuh kita terhadap eksistensi mereka, sehingga mereka terpaksa menerima bantuan dari orang-orang yang kita sebut kafir? Dengan ini, kita harus lebih mawas diri dan memandang persoalan secara lebih jernih. Di Indonesia, di Timur Tengah, muslim adalah mayoritas. Namun sepertinya kebiasaan kita sebagai mayoritas di negara masing-masing membuat kita sombong dan buta karena merasa telah aman. Kita lupa bahwa ada saudara muslim yang hidup di berbagai negara yang disana mereka bukan mayoritas melainkan minoritas yang juga membutuhkan pertolongan sebagaimana Palestina.
            Namun, setidaknya ditengah-tengah rasa bersalah, saya harus merasa lega dan sedikit berbangga atau bahkan kagum. Sebuah teori mengatakan bahwa dalam keadaan yang terjepit, maka segala upaya akan dilakukan untuk bisa selamat. Dan itulah yang terlihat dari Muslim Amerika. Memahami dalam posisi sebagai minoritas, mereka saling bahu-membahu dalam membangun komunitas muslim. Saling mengingatkan, bahkan saling membantu dalam urusan pembangunan ekonomi. Pernah suatu kali saya mengikuti sholat Jum’at berjamaah di sebuah universitas di Philadelphia. Jangan dibayangkan bahwa ada masjid di kampus. Boro-boro masjid, mushola pun jangan harap ada. Saat itu, kami melakukan sholat Jum’at di Student Center. Saya baru bisa merasakan nilai-nilai persatuan umat ketika sholat berjamaah dengan mereka. Kulit putih, hitam, Afrika, Asia, Arab, semua dalam satu jamaah. Konsep “merapatkan barisan” yang selalu diucapakan oleh sang imam saat akan memulai sholat benar-benar dilakukan. Kaki bertemu kaki, pundak bertemu pundak. Dan yang jarang ditemui di Indonesia, para mahasiswi ikut sholat berjamaah di pojok ruangan yang berjarak lebih dari 7 meter dari barisan laki-laki yang paling belakang! Untuk hal ini, saya katakan mereka lebih fundamentalis.
Saat sholat telah usai, sang Imam cepat-cepat mengambil microphone dan memberikan pengumuman. Ia mengumumkan bahwa ada saudara muslim di wilayahnya yang sedang sakit. Ia memohon para jamaah untuk mendoakan sudaranya yang sedang sakit tersebut. Setelah sang imam selesai memberikan pengumuman, tiba-tiba seorang laki-laki maju ke depan sembari membawa sebuah kertas. Ia mengumumkan bahwa dirinya membutuhkan karyawan baru bagi usahanya. Ia menawarkan pekerjaan! Setelah selesai sholat, mereka bersalaman dan saling berpelukan. Ada pula yang langsung menyerbu imam untuk bertanya soal Islam, dengan sang imam yang sangat sabar dan telaten menjelaskan kepada saudaranya yang bertanya itu. Inilah seharunya muslim. Bukankah Allah memerintahkan umat Islam untuk bersatu dalam barisan yang teratur? Wallahua’lam.
            

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger