Selasa, 09 April 2013

"Memahami Konsekuensi Sekularisme di Amerika Serikat"




Tiga puluh tahun lalu, dalam sebuah kesempatan berpidato di depan para tokoh agama, Ronald Reagan mengatakan bahwa Amerika bukanlah negara yang memandatkan agama dalam  bingkai identitas kenegaraan.  Amerika juga tidak akan pernah memilih salah satu agama sebagai agama nasional. Dengan tegas Reagan menyatakan bahwa sampai kapanpun negara dan gereja akan tetap terpisah. Pernyataan tersebut merupakan sebuah penegasan bahwa Amerika sampai kapanpun akan tetap menjadi negara sekuler.
Ketegasan prinsip sekularisme Amerika yang hingga kini masih tetap dipegang teguh sebagai landasan penyelenggaraan negara merupakan ekses dari sejarah panjang negara tersebut. Sejarah telah mencatatkan bahwa berabad-abad lalu ratusan orang  berbondong-bondong keluar dari Eropa melakukan pelayaran berminggu-minggu hanya untuk pergi ke suatu tempat yang mereka sebut New World, yakni benua Amerika. Migrasi besar-besaran yang terjadi dari Eropa menuju Amerika diawali oleh tiga golongan agama yakni kaum Puritan, Katolik dan Quaker. Ketiganya merupakan kelompok agama yang telah mengalami pengalaman buruk dengan  kehidupan agama di Eropa. Dengan membawa harapan besar, mereka bermimpi untuk membangun sebuah tatanan masyarakat baru yang lebih bebas dan sesuai dengan nilai agama mereka.
Amerika kemudian mulai dipandang sebagai tepat yang menjanjikan kebebasan utamanya kebebasan agama. Bagi siapapun yang pernah disakiti oleh kehidupan agama di negara asalnya, Amerika adalah tempat yang akan memberikan obat penyembuh luka bernama kebebasan beragama. Akan tetapi seiring dengan semakin masifnya migrasi ke Amerika justru menimbulkan sebuah konsekuensi logis meningkatnya derajat pluralitas baik etnis maupun agama. Mereka yang tadinya datang ke Amerika untuk tujuan kebebasan beragama justru melakukan persekusi terhadap kelompok lain hanya karena menganggap agama mereka paling benar sedang yang lain sesat. Sebagai hasilnya, berbagai peristiwa berdarah muncul seiring dengan semakin pluralnya kehidupan agama. Sebut saja pengarakan kelompok agama Quaker di Massachussets oleh kaum Puritan, pelarangan ibadah bagi kaum Yahudi di New Nork, pembakaran gereja-gereja Katolik,  juga pemaksaan umat Kristiani terhadap orang-orang Indian Pueblo untuk melepaskan agama pribumi yang telah mereka anut.
Setelah mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan dari pemerintah kolonial Inggris, pada tahun 1787 para tokoh kemerdekaan menyusun Konstitusi Amerika. Sayangnya tidak ada satu klausul atau pasal pun yang menjamin kebebasan agama. Hingga pada tahun 1791, barulah bangsa Amerika memiliki fondasi bernama Bill of Right yang melarang negara untuk mengutak-atik lima kebebasan dasar, termasuk didalamnya adalah kebebasan agama bagi setiap orang terkecuali Indian. Bill of Right yang telah disusun sebagai pengakuan atas hak-hak dasar tiap individu ternyata belum cukup ampuh untuk menjadikan Amerika sebagai negara yang mampu menjamin kebebasan beragama. Pada era tahun 1800an sebuah kerusuhan berdarah terjadi oleh kelompok yang saling berkontraposisi atas upaya memasukkan Injil ke dalam sekolah-sekolah publik. Mereka yang ingin mengembalikan Injil ke dalam kurikulum sekolah publik setifdaknya harus menentukan satu diantara ratusan jenis Injil yang ada.

Konstitusi Amerika kembali diuji dengan adanya kekuatan politik baru bernama Ku Klux Klan. Mereka menyebut  diri mereka sebagai Kekuatan Politik Protestan. Pada tahun 1920, dengan jumlah keanggotaan hingga mencapai empat juta orang, kelompok ini mampu menguasai kursi legislatif di beberapa negara bagian mulai dari Maine hingga Oregon. Mengenakan jubah putih lengkap dengan penutup wajah yang khas, kelompok ini melakukan ­long march di depan Capitol Hill sambil membawa papan bertuliskan “America First! One God, One Country, One Flag” dan menyerukan undang-undang anti Katolik, Yahudi, imigran dan anti-Amerika lainnya. Peristiwa demontrasi besar-besaran oleh jutaan orang kulit hitam yang dipimpin oleh Martin Luther King ternyata mampu merangkul komunitas agama untuk bergabung melawan diskriminasi. Akan tetapi upaya ini mendapat penolakan dari orang-orang yang tidak suka dengan aksi itu. Sebagai konsekuensinya gereja dan sinagog di negara bagian Atlanta dibom serta dibakar. Diantara sekian banyak peristiwa yang terjadi, bangsa Amerika mendapatkan ujian terberat mereka saat teroris meluluh lantahkan dua menara WTC di New York. Dalam sekejap, masyarakat Muslim di Amerika hidup dalam sinisme dan ketakutan bahkan muncul tema baru berjudul Islamopobia. Masjid dicoret-coret dengan makian dan kutukan yang tidak sepantasnya. Lebih dari itu, masyarakat non-Muslim mulai ramai melakukan aksi demo menolak syariat Islam.
Sampai saat ini Amerika masih berupaya untuk mencari sebuah tatanan masyarakat yang menyatu. Akan tetapi hal yang tidak dapat dipungkiri dari kondisi sosial masyarakat Amerika ialah keberagaman mereka. Diakui atau tidak, Amerika masih diyakini sebagai tempat yang menjanjikan kebebasan, khususnya kebebasan beragama. Oleh karena itu tidak heran jika segala macam agama hidup dan berkembang dengan bebas di Amerika, mulai dari agama samawi, agama bumi hingga sekte sesat seperti Satanist. Melihat kenyataan ini, menjadi sangat logis jika kemudian bangsa Amerika memilih untuk menjadi negara yang sekuler. Bagi mereka pemisahan antara gereja dengan negara merupakan cara terbaik untuk menjamin kebebasan agama itu tetap ada sebagaimana dikatakan oleh Ronal Reagan  bahwa tujuan negara melakukan sekularisasi ialah untuk menjamin kebebasan setiap individu untuk menganut ataupun tidak menganut agama manapun dan negara tidak boleh sama sekali ikut campur.
Pendekatan motif sekularisme di Amerika bukan hanya bisa dilihat dari sudut pandang pluralitas masyarakatnya. Lebih dari itu, upaya sekularisme bisa jadi merupakan ‘alat’ untuk menyelamatkan keutuhan negara. Tidak dapat dipungkiri bahwa setelah mencapai kemerdekaan, Amerika tidak langsung menjadi sebuah negara serikat. Perlu diingat bahwa Amerika pada awalnya terdiri dari 13 koloni yang masing-masing berdiri sendiri sebagai sebuah negara dengan prinsip self-governed. Disamping itu, tantangan dari golongan Republikanis terhadap golongan Federalis tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka yang pro Amerika berbentuk Republik tentu mengandung konsekuensi berupa lemahnya power pemerintah dna kuatnya suara people. Bagi golongan Federalis, hal itu dianggap akan mengancam keutuhan negara oleh karena tingkat kemajemukan yang bisa dibilang kelewatan. Oleh karena itu, membentuk Amerika sebagai negara Federal yang tidak menyentuh agama sebagai salah satu parameter terpenting kemajemukan merupakan solusi paling rasional untuk menjaga keutuhan negara itu.
Pengarakan Kaum Quakers di Massachusett
Bangsa Amerika juga tidak bisa menolak kenyataan bahwa sekularisme memunculkan adanya konsekuensi berupa konflik horisontal yang bersumber dari perbedaan teologi masing-masing agama yang seringkali bertolak belakang. Sejarah buruk kehidupan agama masa lalu di Amerika yang bahkan masih terjadi hingga saat ini telah menjadi bukti bahwa sekularisme yang terjadi justru memunculkan masalah berupa konflik agama karena negara tidak berhak dan sama sekali tidak boleh mengatur urusan agama. Disisi lain, paham liberalisme yang mengagungkan kebebasan juga tidak bisa dipungkiri telah membuka ruang ‘debat’ bagi masing-masing agama untuk saling beradu argumen. Dalam bahasa sederhana, orang Amerika tidak akan dituntut apalagi ditahan hanya karena menolak bahkan mengritik dan mengejek agama lain. 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger