Sabtu, 06 April 2013

“Kejutan di Supreme Court”

Gedung Supreme Court Amerika di Washington DC

Sebagai mahasiswa HI yang hampir tiap hari berbicara tentang Amerika, bisa dikatakan saya adalah satu diantara beberapa teman yang diberikan kesempatan untuk bisa berkunjung ke Washington DC. Di sana, jangan bayangkan anda akan menemukan pusat keramaian kota yang penuh dengan berbagai macam hiburan dimana anda bisa menemukan outlet Victoria Beckam. Jika anda mengira hal semacam itu, maka anda kemungkinan besar akan merasa kecewa. Washington sebagai ibu kota kesekian dari Amerika serikat telah diseting sedemikian rupa dan dikhususkan sebagai pusat pemerintahan. Inilah salah satu kepandaian orang Amerika. Coba bayangkan, jika anda ingin mengancurkan Indonesia, anda tinggal mengarahkan pasukan militer anda untuk menjatuhkan bomnya ke Jakarta. Dalam waktu satu hari, anda akan bisa melumpuhkan jalannya ekonomi, politik, pertahanan, data base dan media karena semua terpusat di Jakarta. Namun setidaknya, anda membutuhkan waktu lebih lama jika anda ingin menghancurkan Amerika karena peletakan pusat-pusat penting yang tersebar di berbagai negara bagian. Pusat pemerintahan di Washinton, pusat ekonomi di New York, pusat hiburan di Las Vegas dan California, pusat media di lain negara bagian.
Dalam rangkaian kunjungan kami ke DC, ada beberapa tempat yang masuk dalam daftar tempat yang harus kami kunjungi, diantaranya ialah Senate Building, Supreme Court, Capitol Building, Gedung Putih dan Departemen Luar negeri AS. Untuk kali ini, saya akan sedikit bercerita tentang kunjungan kami ke Supreme Court. Saat kami berkunjung ke Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika, rupanya bagian muka dari gedung tersebut sedang direnovasi. Seperti biasa, untuk memasuki bangunan super penting di Amerika seperti Supreme Court, kami harus melalui mekanisme security check layaknya di bandara. Dan, jangan sekali-kali mengajak senyum petugas, atau anda akan kecewa dibuatnya. Karena sudah sangat terbiasa, kami pun tidak mengalami masalah dengan hal itu. Saat kami semua masuk ke dalam, tampaklah arsitektur dan interior bagian dalam gedung yang luar biasa elegan dan penuh dengan ukiran-ukiran gaya Eropa. Dalam sebuah lorong, kami disambut dengan berbagai karya lukisan, patung dan hiasan tentang hukum dan keadilan, yang tentunya sangat filosofis. Melihat banyaknya objek menarik, tangan-tangan nan cekatan kami pun mulai menyambar kamera yang sedari tadi menggantung di leher. Tanpa aba-aba, masing-masing dari kami langsung menuju tempat favorit untuk mengambil foto. Narsis? Saya pikir anda tahu jawabannya.
Tak berapa lama kami dituntun oleh staf kami menuju sebuah hall yang isinya hanya ada tiang-tiang besar menjulang penyangga atap bangunan nan megah itu. Tidak ada apa-apa disana, hanya beberapa patung tokoh Amerika dan tentu saja security yang sedari tadi spaneng melihat tingkah polah kami yang tidak keruan. Kali ini, kami harus menunggu cukup lama di hall itu tanpa ada kegiatan apa-apa. Namun bagi kami yang menyadari betapa artistiknya ruangan itu, maka waktu yang lama pun tidak menjadi masalah selama baterai kamera masih ada. Setelah sekitar 15 menit kami menunggu, seorang guide perempuan menghampiri kami dan mengajak kami semua untuk masuk ke sebuah ruangan yang sangat mewah bak istana, megah bak limosin, dan astistik seperti wajahnya plato!
Usut punya usut, ternyata ruang itu adalah ruang sidang Mahkamah Agung Amerika Serikat, tepatnya North Walls Courtroom atau Ruang Sidang Utara. Sang guide menjelaskan tentang fungsi ruangan tersebut dan juga fungsi dari susunan kursi-kursi yang berbeda. Ia juga menjelaskan tentang mekanisme persidangan,lengkap beserta contoh kasusnya. Dengan gaya penjelasan yang efektif dan efisien (baca: terlalu cepat), dan diiringi dengan nyamannya kursi di ruang sidang itu, sebagian besar teman saya pun ‘memutuskan’ untuk sedikit memejamkan mata dan menikmati suasana, alias tidur!  Walaupun dengan mata yang terkantuk-kantuk pula, saya tetap berjuang untuk mendengarkan sang guide. Tiba-tiba saja saya terbangun dan terkaget-kaget ketika sang guide menjelaskan sebuah pahatan lukisan yang ada di sekeliling  plafon berbentuk kubah diatas kami. Dalam sekejap perhatian saya langsung tertuju kepada sang guide yang menyebut kata Muhammad dalam gambar itu. Sambil mengangkat satu alis, alias dengan ekspresi tidak percaya, saya pun mendongak ke atas dan melihat lukisan berupa pahatan yang sangat indah di dinding bagian bawah plafon. Sembari memperhatikan dengan mata yang kini berpijar 100 watt, saya mendengarkan penjelasan si mbak-mbak guide. Ia menunjukkan tangannya ke arah sebuah gambar seseorang yang memakai pakaian ala jubah Arab, lengkap dengan surban di kepala dan jubah panjang. Pada tangan kiri gambar tersebut memegang sebilah pedang, sedangkan di tangan kanan memegang sebuah buku. Saya tak yakin buku apa itu, tapi sang guide berkata bahwa itu adalah gambar dari Muhammad, tanpa embel-embel kata prophet didepannya, yang artinya adalah nabi. Gambar itu memegang sebilah pedang disatu tangan dan Al Qur’an di tangan lainnya. Karena masih merasa tidak percaya, dalam hati saya berkata “ah, ada ribuan nama Muhammad di dunia ini, dan mungkin saja gambar itu bukan yang saya maksud!”
            Setelah pemaparan dan sesi tanya jawab usai, kami di giring keluar ruangan. Karena masih merasa penasaran, saya pun memberanikan diri untuk bertanya kepada sang guide siapakah gambar itu sebenarnya. Saya berkata, apakah itu gambar Nabi Muhammad? Guide itu hanya menjawab “Saya tidak tahu, yang saya tahu, lukisan itu ialah lukisan Muhammad”. Saya keluar dari gedung dengan hati yang penuh tanya. Bagi seorang kuper seperti saya, rasa-rasanya tidaklah mungkin orang Amerika menempatkan Nabi Muhammad di sebuah bangunan yang dianggap simbol keadilan bagi Amerika, sebuah negara yang selama ini dimusuhi oleh mayoritas Muslim.
Rasa penasaran saya tidak berhenti disitu saja. Saat waktu senggang, saya bertanya kepada pihak yang diakui oleh seluruh umat sebagai tempat berlabuh, Google. Sembari menggeser-geser kursor, hati saya masih merasa campur aduk dengan informasi yang baru saja saya dapat. Di satu sisi saya paham bahwa walaupun ada kemungkinan, namun kecil adanya dalam konteks negara seperti Amerika untuk meletakkan Nabi Muhammad dalam sebuah bagunan simbol kedigdayaan negaranya. Kedua, kalaupun benar demikian, saya pun masih sedikit galau antara marah atau justru bangga. Marah karena sangat terlarang bagi siapapun untuk mendeskripsikan Nabi Muhammad dalam bentuk gambar, terlebih pahatan, namun juga ada rasa bangga karena berarti Nabi Muhammad dianggap sebagai sosok besar yang memberikan tauladan tentang keadilan. Saat loading selesai, berikut adalah informasi yang saya dapat.
Bangunan Supreme Court merupakan hasil karya desainer Cass Gilbert. Namun dalam hal interior khususnya ukiran dinding dalamnya dibuat oleh seorang pemahat bernama Adolph A. Weinnman. Rupanya, saat Weinnman hendak melakukan pekerjaannya, ia memiliki ide untuk membuat pahatan lukisan dari tokoh-tokoh yang menggambarkan kegunaan dari Supreme Court sebagai penegak hukum di Amerika. Kemudian Weinnman mengambil tema Great Lawgivers of History, yakni catatan perjalanan sejarah hukum dunia yang kemudian diisi oleh para tokoh yang telah berjasa dalam bidang hukum di dunia. Dengan gagasan itu, Weinnman memutuskan untuk memasukkan nama Nabi Muhammad sebagai salah satu diantara tokoh-tokoh tersebut. Ia melakukan itu sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad atas jasa besar beliau dalam memajukan hukum dunia lewat Islam. Dalam pengerjaannya, catatan perjalanan sejarah hukum dunia dibagi ke dalam dua rangkaian. Satu rangkaian yang berisi tokoh-tokoh seperti Menes yang hidup sejak 3200 SM, hingga Octavian (62 SM) ditempatkan pada ukiran dinding South Walls Courtroom, atau ruang sidang selatan. Sedangkan kelanjutannya yakni mulai Justinian (483-565) M, kemudian Nabi Muhammad (570-632) M hingga terakhir Napoleon (1769-1821) ditempatkan di North Walls Courtroom.

Ukiran Nabi Muhammad membawa Pedang dan Alqur'an
di North Walls Courtroom

            Dengan meyakini bahwa gambar itu memang benar gambar Nabi Muhammad, maka muncul pertanyaan baru dalam benak saya. Tidak adakah seorang muslim pun yang protes karena Islam sangat tegas melarang bentuk deskripsi Nabi dalam bentuk gambar? Usut punya usut, ternyata untuk masalah ini pun ada sejarahnya sendiri. Dalam tulisannya di Kompas, Hanny Rono menjelaskan secara cukup gamblang. Berikut saya copy paste cerita beliau tentang hal ini.
“Pada tahun 1997 the Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengajukan petisi keberatan ke pengadilan yang menghendaki agar pahatan sosok Nabi Muhammad saw. dihilangkan dari hiasan dinding tersebut dengan alasan bahwa pertama, Islam tidak mengajarkan ataupun mendorong umatnya untuk menvisualisasi nabi-nabi, hal ini bertujuan untuk menghindarkan kemungkinan penyembahan kepada para nabi. Kedua, Pada pahatan tersebut Nabi Muhammad saw. digambarkan membawa pedang, hal ini dapat dikatakan semakin memperkuat pandangan sinis negatif terhadap Islam yang dianggap sebagai penakluk yang tidak toleran. Sedangkan alasan yang ketiga, bahwa ternyata dalam setiap dokumen-dokumen dan pamflet-pamflet yang berisi publikasi arsitektur gedung, telah salah menyebutkan Muhammad sebagai sang pendiri Islam “the Founder of Islam”, padahal dalam pandangan Islam, beliau adalah sang penerus nabi-nabi sebelumnya termasuk Abraham (Ibrahim as.), Moses (Musa as.), dan Jesus (Isa as.), dan menjadi nabi yang terakhir. William H. Rehnquist, Ketua Mahkamah Agung Amerika saat itu, menolak petisi CAIR dengan alasan bahwa penggambaran Nabi Muhammad saw. di ukiran dinding tersebut dimaksudkan sebagai bentuk pengakuan dan memperkenalkan beliau sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah hukum dunia, bukan dimaksudkan untuk memvisualisasi fisik sebagai penyembahan kepada beliau.”
Nah, lebih lanjut menurut Hanny, untuk menjawab tuntutan dari CAIR tersebut, William mengatakan bahwa sebenarnya pemaknaan pedang yang dipegang oleh Nabi Muhammad bukanlah seperti apa yang dikatakan oleh CAIR. Sebaliknya, pedang diartikan sebagai simbol keadilan. Karena jika melihat patung-patung atau pahatan yang lain seperti Lady of Justice juga memegang pedang. Lalu, sebagai jalan tengah dari masalah tersebut, disepakatilah adanya gubahan dalam penjelasan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi Agama Islam, bukan Pendiri Islam. Belum selesai sampai disitu, pahatan Nabi Muhammad tersebut dituangkan dalam penjelasan dalam rangka penghormatan dari sang pemahatnya untuk Nabi Muhammad, bukan untuk memvisualisasikan Nabi Muhammad. Oleh karena saya masih melihat sendiri secara langsung dengan mata kepala sendiri, maka saya berani meyakinkan anda bahwa sampai saat ini gambar itu masih ada. Wallahua'lam...



2 komentar:

faida masruroh mengatakan...

subhanallah

Andika Putra mengatakan...

Semoga menginspirasi yah! Kalau kamu tau, bahkan ternyata di Mahkamah Agung New York juga diabadikan patung Nabi Muhamamd di atas bangunannya.. cuma lobi komunitas muslim disana lebih kuat dan berhasil menumbangkan patung itu. Istimewanya, pemerintah New York tetap membiarkan bekas patung itu ampai sekarang dan nggak menggantinya dengan tokoh yang lain.

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger