Rabu, 13 Maret 2013

“Merubah Paradigma Kepemimpinan Mahasiswa”


Oleh: Andika Kelana Putra



“Mahasiswa adalah agen perubahan”. Kalimat inilah yang seringkali ‘dikambing hitamkan’ oleh mereka yang mengaku sebagai aktivis kampus. Dengan menyandang status sebagai agen perubahan, para mahasiswa sebenarnya tidak perlu berbangga diri terlebih besar kepala. Jika kita resapi maknanya, kata agen atau yang dalam bahasa Inggris disebut agent mengandung konsekuensi logis adanya tindakan atau action yang nyata, bukan hanya sekadar retorika. Tidak hanya berhenti disitu, konsekuensi lanjut dari action sebagai agen ialah tanggung jawab yang tidak ringan. Dalam konteks ‘agen perubahan’, sebenarnya inti dari frase ini terletak pada kata perubahan itu sendiri. Bukan berarti bahwa sang agen menjadi tidak penting. Sebaliknya dalam memaknai sebuah tindakan, para mahasiswa harus sadar dan paham betul alasan mengapa mereka harus bertindak. Dalam bahasa sederhana, aksi nyata yang dilakukan sang agen haruslah memiliki dasar atau tujuan yang tidak lain adalah  perubahan itu sendiri.
Pada hakikatnya kata ‘perubahan’ mengandung makna logis berupa proses, entah dalam bentuk transisi ataupun transformasi. Inilah yang seringkali dilupakan bahwa meskipun tujuan yang ingin dicapai ialah perubahan, akan tetapi penilaian sesungguhnya terletak pada proses yang dilalui. Melalui proses itulah para mahasiswa dapat belajar bagaimana menjadi pribadi yang berintegritas. Sebaliknya, jika kita lebih berorientasi pada tujuan atau hasil, kita hanya akan terjebak pada ambisi dan cenderung melupakan esensi sebuah proses. Sederhana saja, seorang mahasiswa kedokteran yang memiliki motivasi untuk menjadi dokter, namun ternyata dalam pembuatan skripsinya justru melakukan plagiarisme terhadap hasil karya orang lain. Ini adalah salah satu ekses yang dihasilkan ketika mahasiswa hanya berorientasi pada hasil, bukan memaknai proses. Bukankah menjadi dokter yang bermanfaat bagi banyak orang merupakan sebuah motivasi untuk melakukan perubahan? Akan tetapi ia lupa bahwa untuk menjadi seorang dokter diperlukan integritas tinggi. Bahwa ketika tengah malam datang seorang pasien yang meminta pertolongan darurat, seorang dokter tidak boleh menolak permintaan sang pasien.
            Mindset mahasiswa sebagai agen perubahan nampaknya juga harus segera dirubah. Dalam logika sederhana sebuah bisnis, agen hanyalah penerus dari perusahaan yang menciptakan sebuah produk. Ia bukanlah pembuat produk. Sebaliknya, ia hanyalah aktor yang berjasa dalam mendistribusikan produk untuk bisa sampai ke tangan konsumen. Sederhananya, agen bukanlah inisiator. Oleh karena itu, meminjam istilah dari seorang aktivis kampus, mahasiswa sebagai suatu kesatuan aktor sudah sepantasnya menjadi leader of change atau pemimpin perubahan. Hal ini juga beriringan dengan status ‘eksklusif’ mahasiswa sebagai kaum cendekiawan. Dengan memikul status tersebut, mahasiswa memiliki fungsi yang lebih startegis untuk bisa menjadi inisiator perubahan melalui bidang yang didalami oleh masing-masing.
            Menjadi inisiator perubahan bukan pula urusan yang mudah karena harus memiliki sifat inisiatif. Untuk menjadi seorang yang inisiatif, mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Inilah yang seringkali disepelekan. Budaya hedonisme dan hura-hura seakan telah menjadi kebiasaan yang berdampak pada butanya mata hati untuk melihat kondisi sosial yang terus bergerak secara dinamis. Di kota New York, terdengar sebuah cerita tentang peran pemuda yang tergerak melakukan perubahan karena berangkat dari rasa kepekaan sosial. Minggu pagi tanggal 6 Maret 2011, tepat sepuluh tahun setelah peristiwa terorisme 11 September, Time Square mendapatkan pengunjung lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ingin melihat gemerlap kota tersebut, namun mereka berkumpul untuk menyuarakan sesuatu. Dari kejauhan terdengar jelas suara tiga anak perempuan yang sedang berpidato dengan penuh semangat, seolah apa yang mereka katakan sangat penting untuk didengar oleh warga New York.  Dengan penuh kepercayaan diri, ketiganya menyampaikan pidato pembelaan terhadap komunitas Muslim di New York yang sedang mendapat diskriminasi. Di depan banyak orang, ketiganya berkata dengan lantang, “meskipun kami hanya anak-anak, namun kami sangat paham bahwa tidaklah benar untuk memperlakukan siapapun dengan tidak adil hanya karena kepercayaan agama mereka!”
Tiga perempuan kecil tersebut merupakan bagian dari aksi protes 150 organisasi kemasyarakatan terhadap sikap seorang anggota kongres Amerika Serikat bernama Peter King yang menuduh Islam sebagai sumber radikalisme dan kekerasan. Apa yang dilakukan oleh tiga anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama tersebut merupakan respon terhadap ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat Amerika. Bagi anak seusia mereka, bermain dan bersenang-senang adalah hal yang lebih masuk akal untuk dilakukan daripada harus susah payah berpidato didepan umum untuk membela orang-orang yang mungkin tidak mereka kenal. Akan tetapi kepekaan sosial lah yang telah membimbing hati nurani mereka untuk mengatakan bahwa, “ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi!”. Kesadaran itulah yang kemudian memunculkan inisiatif untuk melakukan sesuatu. Apa yang mereka lakukan mungkin bisa dianggap hal sepele. Akan tetapi bagi warga Muslim New York yang sedang mengalami ketidakadilan,  melihat tiga anak perempuan non-Muslim berkata lantang didepan umum membela hak-hak warga Muslim, maka hal itu adalah tindakan yang sangat bermakna dalam membawa perubahan.
 Sebutan ‘pemimpin perubahan’ juga menyaratkan adanya sifat ketauladanan. Tidaklah masuk akal bagi seorang duta anti narkoba untuk ikut mengonsumsi narkoba. Oleh karena itu tugas seorang pemimpin perubahan selain memiliki kepekaan sosial dan inisiatif yang tinggi, juga harus bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Hal ini sekali lagi bukan perkara mudah. Seseorang bisa memberikan inspirasi ketika ia berhasil membuktikan komitmennya untuk menjadi contoh bagi yang lain. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa seorang pemahat bernama Adolph A. Weinnman telah membuat ukiran Nabi Muhammad di atas ruang sidang Mahkamah Agung Amerika Serikat. Bagi sebuah negara sekuler seperti Amerika, memasukkan tokoh agama pada bangunan yang menjadi simbol keadilan negara tersebut bukanlah hal populer untuk dilakukan. Namun tidak banyak pula orang yang paham bahwa alasan Weinnman melakukan itu berangkat dari  kekagumannya terhadap Nabi Muhammad atas jasa besar beliau dalam memajukan hukum di dunia. Ia mengabadikan sosok Nabi Muhammad sebagai salah satu diantara tokoh-tokoh pemimpin dunia yang telah memberikan inspirasi dalam menegakkan keadilan.  Hal ini membuktikan bahwa seorang leader of change sejatinya ialah mereka yang bisa memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitar melalui action nyata, yang pada akhirnya akan menjadikan inspirasi bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, mahasiswa harus mulai merubah mindset untuk tidak lagi hanya sebatas menjadi agen, namun pemimpin perubahan yang mampu memberikan inspirasi. Pada akhirnya, mahasiswa juga sudah selayaknya beralih ke paradigma baru bahwa tidak cukup hanya bervisi sebagai pemimpin masa depan. Lebih spesifik, mahasiswa harus bervisi sebagai pemimpin besar, untuk masa depan yang besar pula.

2 komentar:

Riska Santika mengatakan...

(y)
setuju akh!!

Ahmad Rafuan mengatakan...

atau creator of change ?

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger